: Santri dan Ke-eksistensian-nya
Awal menimba ilmu di pondok pesantren, saya beranggapan kalau songkok hitam, sarung merek wadimor, dan baju koko putih yang saya pakai ketika itu merupakan wujud dari ke-eksistensian saya sebagai santri.
Atau barang kali sampai saat ini, saya masih sering beranggapan kalau gamis panjang, dan sorban hijau yang saya pakai adalah implementasi untuk mempertahankan ke-eksistensian saya sebagai santri.
Tampilan yang saya gunakan ketika itu memang termasuk dari eksistensi sebagai santri, namun hanya sedikit. Karena hakikat eksistensi santri yang hakiki adalah nilai-nilai Agama yang dapat kita implementasikan untuk orang lain. Bermanfaat untuk orang banyak, khidmah untuk umat, dan berguna bagi nusa, bangsa, dan Agama.
Semoga rasa bangga kita sebagai santri terefleksi dengan cara berfikir, bertindak, dan berkarya yang dapat melahirkan prestasi atau karya nyata untuk umat, memerangi kebodohan, dan meng-integrasikan ilmu pengetahuan duniawi dan ukhrowi.
Selamat Hari Santri...!!
Kairo, 22 Oktober 2017
![]() |
| Hari Santri 2017 |

Tidak ada komentar:
Posting Komentar